Kite Could Potentially Replace Electricity Generator

layangan-menghasilkan-listrik

Electricity is an inseparable part of modern human civilization. 90% of our activities are related to electricity, and even the device you're using to read this can function because of electricity.

Electricity was first adopted by society in the late 19th century. At that time, electricity was a new thing for European society. Initially, electricity was used for simple things, such as lighting. However, even this simple use was important, as people used to have to fill their lamps with oil every night for lighting, not to mention the decrease in fire risk when switching to electric lighting.

Electricity is generated through various methods and is divided into two categories based on the origin of energy: renewable and non-renewable. Fossil energy is the most conventionally applied source of energy worldwide. The process of creating electricity from fossil energy involves burning fossil fuels to evaporate water, and the resulting steam is used to power electric generators. On the other hand, renewable energy uses natural energy sources to power generators, such as wind and water currents, and can also capture photons of light to move electrons in solar panels.

Recently, renewable energy has become more popular for implementation in the coming decades. This is due to the limited amount of fossil energy and its fluctuating prices, which can easily cause economic instability in a country. In contrast, renewable energy tends to only require infrastructure investment and periodic maintenance, while an unlimited energy source makes electricity prices more stable.

konsumsi-listrik-per-kapita

Konsumsi Listrik Indonesia

Konsumsi listrik yang masyarakat gunakan dari tahun per tahun terus naik. Paling sedikit kenaikan konsumsi listrik di dunia adalah 2% sedangkan negara berkembang cenderung mengalami kenaikan konsumsi yang signifikan yang berbanding linear dengan pembangunan infrastruktur dan perkembangan ekonomi.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, ternyata konsumsi listrik per kapita Indonesia masih tergolong rendah. Masyarakat Indonesia memang cenderung suka untuk menghemat. Selain itu konsumsi listrik per kapita yang rendah dengan sumber energi fosil cenderung menguntungkan Negara karena jika ada kenaikan harga energi fosil maka pemerintah tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak dana untuk subsidi listrik lalu dananya dapat digunakan ke hal lain yang tidak kalah pentingnya.

Jika dilihat grafik tersebut ternyata warga malaysia lebih konsumtif terhadap listrik daripada Indonesia. Hal ini cukup wajar karena ekonomi malaysia disumbang sebagian besar dari Industri Manufaktur yang paling tidak menyalakan lampu lebih banyak di pabrik dan gudang daripada Indonesia yang lebih banyak beraktivitas sebagai petani.

Sedangkan untuk Singapura dan Australia memang wajar jika konsumsi listriknya sangat tinggi karena pembangunan disana sangat merata menjangkau seluruh daerah yang dihuni manusia, jadi hampir seluruh orang yang tinggal disana pasti menggunakan listrik tiap hari. Selain itu Singapura meman mengoperasikan pelabuhan terbaik se-asia tenggara yang bekerja 24 jam dan masyarakat disana sangat bergantung terhadap teknologi baik untuk bekerja hingga untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.

Ternyata mahal maupun murahnya listrik di suatu negara tidak serta merta membuatnya lebih konsumtif daripada yang lain. Listrik di Singapura jelas lebih mahal daripada disini karena sebagian besar berasal dari Gas Alam sedangkan di Indonesia pakai batubara, bahkan listrik disini disubsidi oleh pemerintah. Listrik yang murah tidak membuat warga Indonesia lebih konsumptif daripada warga Singapura.


produksi-listrik

Produksi Listrik di Indonesia

Banyak yang berkata kalau energi fosil adalah energi masa lampau. Hal ini membuat berbagai elitis di seluruh dunia merencanakan pembangunan sumber listrik terbarukan seperti solar panel hingga turbin angin.

Meski demikian untuk beralih ke energi terbarukan 100% membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Transisi ke energi terbarukan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya dari investor namun pemilik lahan untuk bekerjasama membangun infrastruktur energi yang demokratis dan menguntungkan rakyat. Meski demikian sampai saat ini sebagian besar bahan untuk membangun energi terbarukan masih banyak yang impor seperti contohnya panel surya yang kebanyakan dari Tiongkok.

Indonesia termasuk negara yang tertinggal dalam hal transisi ke energi terbarukan. Jika dibandingkan dengan tetangga malaysia, Indonesia ketinggalan 700 basis poin. Apalagi jika dibandingkan dengan Australia. Namun cepatnya transisi energi terbarukan di Australia tidak dipungkiri karena Australia memiliki lahan kosong yang sangat luas sehingga sangat mudah untuk ekspansi ke wilayah baru untuk membangun infrastruktur energi terbarukan.

Yang mengejutkan adalah bagaimana Singapura sangat ketinggalan dalam transisi ke energi terbarukan. Hampir seluruh suplai listrik di Singapura berasal dari energi fosil, hal ini mungkin terjadi karena Singapura sangat padat bangunan sehingga mencari lahan kosong untuk mensuplai energi terbarukan merupakan tantangan baru yang perlu diselesaikan. Meski demikian dengan adanya permasalahan ini juga membuka kemungkinan negara tetangga dengan tanah kosong yang luas untuk mengekspor suplai energi terbarukan ke Singapura.

sumber-listrik-terbarukan

Sumber Listrik Terbarukan

Energi Terbarukan memang merupakan hal yang sangat sering kita temui di berita-berita. Banyak milyarder berinvestasi ke energi terbarukan mulai dari Adani dari India hingga Elon Musk yang memiliki Tesla.

Energi Terbarukan ditopang oleh hidropower, solar energy, dan wind energy. Hidropower merupakan sumber energi terbarukan yang paling banyak memproduksi listrik secara global namun harus memiliki arus air yang kuat untuk membangunnya. Hal ini berbeda dengan Solar Panel yang hanya membutuhkan ruang kosong untuk memanen proton cahaya dari matahari, meski demikian beberapa negara di belahan bumi utara ada yang kesulitan mendapatkan energi ini secara maksimal.

Selain itu masih ada sumber energi terbarukan yang sangat potensial hingga diperkirakan dapat menghasilkan energi terbarukan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan manusia, Energi tersebut adalah Tidal Energy. Tidal Energy adalah energi yang dihasilkan oleh gelombang laut lalu ditangkap oleh turbin tertentu untuk menggerakkan generator sehingga bisa menghasilkan listrik. Sayangnya hingga saat ini belum ada yang memproduksi listrik secara massal melalui metode ini karena energi ini masih dikaji dan mencari desain paling efisien untuk menangkap energi ini.

Selain itu masih ada energi terbarukan lain yang berasal dari hewan dan tumbuhan yakni bioenergi. Bioenergi ini juga potensi besar untuk menyumbang kontribusi terhadap energi terbarukan namun saat ini harganya masih kalah kompetitif dengan energi fosil. Selain itu bioenergi ini menghasilkan limbah ke lingkungan yang seperti energi fosil lakukan sehingga sangat jarang dilirik oleh investor maupun pemerintah.

windvogel

Layangan Ternyata Dapat Menghasilkan Listrik

Energi Angin jumlahnya sangat banyak di dunia ini. Hampir setiap daerah memiliki angin yang berhembus kencang tiap minggu sehingga pembangunan energi terbarukan yang mengutilisasi energi angin merupakan hal yang rasional dan praktis.

Masalahnya adalah untuk mendapatkan suplai energi angin yang konsisten dan cukup besar membutuhkan instalasi di ketinggian tertentu. Hal ini dilakukan supaya biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan akan seminim mungkin karena energi yang dihasilkan cukup besar untuk menekan biaya.

Masalahnya untuk penginstalan turbin angin konvensional membutuhkan infrastruktur jalan yang cukup memadai untuk transportasi bahan bangunannya yang sangat panjang. Hal ini tentu merepotkan dan tidak fleksibel untuk diterapkan.

Pada tahun 2017 seorang arsitek asal Belanda mendesain karya seni yang bernama Windvogel. Windvogel ini adalah dansa pada 2 buah layangan yang terpaut pada satu tali dan menggerakkan generator sehingga dapat menghasilkan listrik. Kelebihannya adalah sangat fleksibel untuk diinstal dan modal untuk membangunnya lebih murah.

Meski demikian Windvogel ini merupakan karya seni yang condong untuk membuat hiburan kepada masyarakat dan memberi awareness mengenai energi terbarukan. Bukan berarti listrik dari angin tidak mungkin dibangun di masa depan namun perlu menyempurnakan desain supaya listrik yang dihasilkan lebih efisien dan banyak sehingga tidak membuang sumber daya yang tidak perlu untuk membangunnya.


Artikel Direkomendasikan

Oil and Gas Doing Dividend Party


Cactus to Feed The World ?

Weed Accidentially Go Into Salad Supply Chain